Anas Biarkan Demokrat Disusupi?

Anas, Ibas, dan Jhonny Allen

Mengapa SBY cemas dengan kepemimpinan Anas. Benarkah Anas membiarkan Demokrat dikuasai orang luar? Mengapa kader sendiri terkesan tak didukung pada Musda PD Sumut?

Belakangan ini, tanpa sungkan-sungkan orang-orang di DPP Partai Demokrat berulangkali menyatakan partainya membuka pintu bagi orang dari luar partai untuk memimpin. Ini tentu tak lazim, karena partai biasanya tidak begitu mudah memberikan tongkat komando partai di tingkat manapun, kepada mereka yang datang dari luar. Bagaimana tidak, orang luar patut dipertanyakan loyalitasnya, dan pantas pula dicurigai hanya ingin memanfaatkan.

Jhonny Allen Marbun, misalnya, Wakil Ketua DPP Partai Demokrat yang sedang punya persoalan hukum ini dengan terbuka mengatakan DPP Partai Demokrat akan memberi peluang sebesar-besarnya kepada tokoh non kader atau non pengurus untuk memimpin Demokrat Sumut. Menurutnya, yang penting calon tersebut harus telah memberikan kontribusi besar kepada partai termasuk dalam perhelatan pilkada dan harus memiliki potensi untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya suara rakyat pada Pemilu 2014 mendatang.

Tak pelak pernyataan seperti itu melukai perasaan kader yang telah memperjuangkan Demokrat di masa-masa sulit, ketika belum diperhitungkan dalam kancah politik nasional.

“Pernyataan seperti itu kan seperti menjajakan, menawarkan tahta kepemimpinan kepada orang lain. Kesannya, di internal Demokrat tak ada yang layak memimpin, padahal kita

punya orang-orang yang punya kemampuan, dan yang lebih penting, telah teruji loyalitasnya kepada partai,” ujar Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumut, Ahmad  Ikhyar Hasibuan.

Ikhyar dan kader-kader “asli” lainnya memang pantas cemas. Keberhasilan orang luar, terutama sekali kader Golkar, menguasai tampuk kepemimpinan Demokrat sudah menjadi cerita umum di berbagai daerah. Perpindahan Ketua Golkar ke Demokrat, termasuk ke level pimpinan begitu mudah terjadi, persis seperti pindah kursi di warung kopi. Enteng sekali. Di Makassar, misalnya, Ilham Arief Sirajuddin sudah berbaju biru. Tadinya ia tokoh kunci Golkar. Ia Walikota sekaligus Ketua Golkar Makassar.

Kekhawatiran lain kemudian muncul. Jangan-jangan hal semacam itu merupakan bagian dari grand strategy untuk menguningkan Demokrat dari dalam. Artinya, mereka disusupkan untuk menguasai Demokrat, tetapi target mereka sesungguhnya adalah untuk kepentingan “rumah lamanya” dalam hal ini Partai Golkar.

Posisi Anas

Ingatan kita kemudian kembali ke beberapa saat lalu, saat Munas Partai Demokrat Maret lalu. Meski tidak dinyatakan secara terbuka, Susilo B Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina tampak tidak begitu berkenan dengan Anas Urbaningrum. Begitu banyak sinyal yang memperlihatkan bahwa SBY sebenarnya ingin menyerahkan kepemimpinan partai kepada Andi Malarangeng. Namun di sisi lain, SBY juga tidak ingin mempertaruhkan nama baik partai dan dirinya sendiri dengan memberi arahan yang jelas. Hasilnya, seperti kita ketahui, Anas yang menang.

Lantas mengapa Anas tidak “disukai” SBY?

Sebelum Munas, SBY berulangkali sudah mengingatkan dan mengimbau kepada semua kader Partai Demokrat agar mewaspadai adanya ‘penyusup’ saat Kongres PD. Memang SBY tidak tunjuk hidung siapa yang harus diwaspadai sebagai penyusup. Namun, ada pihak yang menafsirkan bahwa yang disebut ‘penyusup’ adalah elit PD yang dekat dengan ‘pentolan’ Partai Golkar. Pasalnya, bisa saja si ‘penyusup’ itu nanti mengarahkan Partai besutan SBY tersebut untuk mendukung capres dari Partai Golkar pada Pilpres 2014.

Apabila diterka dan ditebak, bisa jadi yang dimaskud ‘penyusup’ itu adalah Anas Urbaningrum. Sebab, mantan ketua umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini merupakan kader dari Akbar Tandjung yang kini menjabat Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar. Bahkan, awal melejitnya karier Anas Urbaningrum dimulai dari terpilihnya dia menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) diduga karena jasa Akbar Tandjung yang ketika itu menjadi Ketua DPR merangkap Ketua Umum DPP Partai Golkar. Alhasil, Anas sebenarnya adalah kader Golkar ‘tulen’. Memang, perilaku Anas yang berlagak ‘sok’ santun mirip SBY. Namun yang mengerikan, di belakang Anas adalah geng HMI Jalan Diponegoro sehingga berkiblat ke Akbar Tandjung.

Anas sendiri menyebutkan Demokrat harus melakukan kaderisasi yang sungguh-sungguh. “PD melakukan kaderasasi partai, tidak boleh mengalami kelangkaan kader yang bermutu dan berkualitas.” katanya.

Musda Sumut

Namun Musda PD Sumut tampaknya seperti menguatkan sinyalemen ini. Meski tidak menyatakannya secara langsung, pernyataan-pernyataan orang-orang DPP mengesankan bahwa pintu sangat terbuka lebar bagi kader-kader Golkar untuk memimpin PD Sumut.

Setelah kans Rahudman Harahap menipis, giliran HT Milwan yang diberi jalan. “Kita melihat gejala, bahwa Musda Sumut sudah sangat diarahkan oleh orang-orang DPP, untuk memberi kesempatan besar kepada Milwan. Apakah ini memang semacam penyusupan yang dibiarkan, kita tidak tahu. Yang jelas, nasib partai dipertaruhkan,” ujar salah seorang pengurus PD Sumut.

Dia lantas mengaitkan dengan pidato Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, yang mengatakan walaupun langit masih biru, tetapi padi sudah menguning. “Golkar ini kan pemain lama, dan mereka melihat ada peluang besar untuk merebut kembali kemenangan dari Demokrat. Apalagi dalam hitung-hitungan mereka, pengaruh Pak SBY sudah berkurang, dan Demokrat dipimpin oleh Anas yang memiliki, katakanlah kedekatan ideologis dan politis dengan mereka,” ujarnya.

Namun pengurus lainnya yang juga minta identitasnya dirahasikan, menyatakan masih yakin akan kepemimpinan Anas. “Tetapi Musda Sumut inilah pembuktiannya. Jika DPP memang membiarkan Musda berlangsung secara fair dan sesuai dengan konstitusi partai, maka kita tak pantas meragukan integritas Ketua Umum. Sekali lagi, kita di Sumut menunggu bukti itu,” ujarnya.

Secara khusus, mereka juga menyoroti kiprah Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Jhonny Allen Marbun. “Banyak indikasi bahwa dia punya agenda khusus untuk mengarahkan Musda, padahal sesuai pernyataan resmi DPP, arah Musda ini sepenuhnya ditentukan oleh pesertanya. Teman-teman peserta tentu takut dengan orang-orang DPP, dan akhirnya mereka akan turut saja kepada komando yang diberikan oleh orang-orang DPP seperti Jhonny Allen,” katanya.

Dia mengingatkan, tidak hanya seluruh kader Demokrat, seluruh warga Sumut sedang menyaksikan proses dan dinamika politik yang terjadi di Musda ini. “Dan bila kita tidak bisa mempertontonkan dinamika yang elegan dan demokratis, orang akan kehilangan simpati. Ini sangat mempengaruhi perolehan suara partai dalam pemilu mendatang,” katanya.

Dia berharap, manuver Jhonny Allen ini sebenarnya berada di luar pengetahuan DPP. “Kita masih percaya, Jhonny tidak sedang melakukan ‘missi khusus’ dari DPP, dan oleh karena itu, kita berkepentingan memberitahu DPP, khususnya Ketua Umum, soal tindak tanduk orang ini,” katanya memungkas pembicaraan. (Toga Nainggolan)

2 Komentar to “Anas Biarkan Demokrat Disusupi?”

  1. Apa yang dilakukan Anas saat ini pada prinsipnya sudah tepat, dengan memberikan peluang orang diluar kader untuk mencalonan diri menjadi ketua pada Musda PD disumut. Tentunya kader PD harus Legowo dan berbesar hati dengan menepis segala kecurigaan yang ada. Anas Mempunyai pandangan tersendiri untuk kemajuan PD sumut kedepan terutama Pemilu 2014, jika calon kandidat ketua tersebut tersebut memiliki integrtas yang baik dimasyarakat dan diyakini mampu membesarkan PD kedepan tak salah rasanya didukung, jika incumbent yang terpilih pada Musda 2 PD sumut kali ini hal itu sah-sah saja cuma jangan memaksakan kehendak dengan mendudukkan orang diluar kader yang intinya hanya untuk mencari perlindungan di PD.

  2. jika kita berbicara ttg JAM ( Joni Alen Marbun) jangankan menang seripun payah. Masyarakat Medan tau itu. Sutan Batugana, JAM mengelus dan mengusung Rahudman hrp untuk menjadi calon ketua pada Musda PD sumut Namun setelah Rahudman jadi tersangka sebagaimana yang diberitakan media massa medan, peta p[olitik menjelang musda menjadi berubah JAM beralih mendudukung T Milwan, ada apa ? apa ada……? jangan paksakan kehendak bung ! incumbet yang ok jadi ketua itu harus yang bersih, tersanga kok mau dijadikan ketua apa kata orang Medan nantinya…………………………………………………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: