Pengusaha Rental Mobil di Medan Resah

–Poltabes MS Diminta Bongkar Sindikat Penggelapan Mobil–

MEDAN, MANDIRI

Poltabes Medan Sekitarnya diminta untuk segera membongkar sindikat penggelapan mobil rental di Medan. Bentuk kejahatan tersebut harus dituntaskan karena terkesan berlangsung mulus dan sudah lama. Teroris saja beserta jaringannya berhasil disikat habis polisi, apalagilah sekecil kasus penggelapan mobil. Kasus ini serius karena sudah mempermalukan Sumut disaat-saat penegakan hukum seperti sekarang ini.

Sahat Manullang (49) pengusaha rental mobil penduduk Perumnas Medan II salah seorang korban dari sindikat penggelapan mobil kepada wartawan di Medan, Selasa (6/4) menjelaskan, dia sudah dua kali kehilangan mobil karena digelapkan pihak penyewa dengan modus yang sama. Hingga sekarang mobil tersebut belum dikembalikan kepadanya. Namun sangat disesalkannya bahwa kedua mobil tersebut diketahui sudah berada di pihak leasing setelah ditebus dari oknum penadah tanpa diberitahukan kepada Sahat selaku pemilik.

“Kasus ini sangat menarik perhatian seluruh aparat penegak hukum sampai ke tingkat Kapoldasu dan Pangdam I/BB karena penadahnya disebut-sebut melibatkan oknum CPM. Untuk itu diminta kepada aparat penegak hukum supaya segera menangkap semua pihak yang terlibat, termasuk mulai dari penyewa, penadah, sindikat lainnya dan termasuk pihak leasing harus diperiksa karena terkesan sudah berkolusi dengan penadah,” ujar Sahat Manullang didampingi penasehat hukumnya Hiskia Panjaitan SH.

Menurutnya, nasib sial yang dialaminya bermula saat tetangganya bernama Matar Pane penduduk Jalan Enggang Raya Perumnas Medan II bersama Raden Endang Soedarmadji alias Dadang dengan mencantumkan alamat Jalan Karya Tani nomor 18 Medan pada tanggal 10 Juli 2009 mendatangi Sahat Manullang untuk merental mobil. Dalam surat perjanjian sewa menyewa mobil pada tanggal 10 Juli 2009 dituliskan bahwa mobil jenis Xenia BK 1383 JP disewa Dadang selama sebulan terhitung dari tanggal 10 Juli s/d 10 Agustus 2009 seharga Rp 4.500.000 per bulan dan saat itu sudah diberikan panjar Rp 2.000.000, sedangkan sisanya Rp 2.500.000 lagi dilunasi setelah lima hari kemudian.

Kedua kalinya, tanggal 3 Agustus 2009 Dadang kembali mendatangi Sahat Manullang hendak merental satu lagi mobil miliknya karena mobil yang dirental sebelumnya dipakai staf proyek bernama Nurhaida alias Ida. Menurut Dadang mereka sedang mengerjakan proyek PLTU di Pangkalan Susu dan renovasi Pasar Brastagi. Saat itu Dadang merental mobil Sahat merek Kijang warna biru metalik BK 717 DM selama 10 hari dengan biaya rental Rp 2.000.000 dan saat itu baru dipanjar Rp 600.000.

Selanjutnya, pada tanggal 10 Agustus 2009 saat mobil yang pertama habis masa kontraknya, Dadang menghubungi Sahat dengan maksud bahwa mobil tersebut hendak dirental sebulan lagi. Saat itu Dadang masih mentransfer uang sebanyak Rp 3.000.000 lewat BRI Jalan Brigjen Katamso Medan. Dan sejak itulah Dadang menghilang dan mobilpun tidak dikembalikan kepada Sahat.

Mencermati tindakan yang sudah mencurigakan itu, akhirnya Sahat bersama temannya mencari Dadang ke alamat Jalan karya Tani Nomor 18 sebagaimana dituliskannya saat merental mobil. Ternyata alamat tersebut tidak jelas. Kecurigaan Sahat pun semakin bertambah, akhirnya mereka mencari lokasi proyek PLTU di Pangkalan Susu. Setelah ditanyai, disanapun tidak ditemukan nama yang merental mobil seperti itu.

Akhirnya tanggal 28 September 2009 kasus ini dilaporkan Sahat Manullang ke Poltabes MS. Dalam laporan yang diterima Aiptu I Sitanggang dikatakan bahwa tindak pidana penipuan dan penggelapan dua unit mobil sebagaimana dimaksud dalam pasal 378 Yo 372 KUHP diduga dilakukan R Endang Soedarmadji dengan saksi-saksi antara lain Matar Pane, Martahan Manullang, Mak Mayang dan Sili. Akibat tindak penipuan dan penggelapan kedua mobil tersebut Sahat Manullang selaku korban mengalami kerugian Rp 281 juta.

Setelah kasus ini dilaporkan ke Poltabes MS, beberapa hari kemudian Sahat Manullang didatangi Murni br Sembiring yang dalam pengakuannya ia selaku mantan isteri Dadang. Kepada Sahat, Murni meminta uang tunjuk Rp 1 juta sembari menawarkan jasa baiknya supaya Dadang ditangkap. Setelah uang diberi, ternyata Dadang pun tidak ditemukan. Selain Murni, ada lagi yang datang menjumpai Sahat dengan mengaku staf khusus dari pusat yang menjelaskan bahwa kedua mobil Sahat Manullang kini sudah ditangan penadah berinisial S yang disebut-sebut oknum CPM bermarkas di Pasar III Medan Marelan dan mereka minta uang tebusan Rp 30 juta. Ketika itu Sahat dengan tegas menolak permintaan tersebut dan sempat berpikir jangan-jangan sudah banyak korban penipuan dengan modus yang sama, karena disebut-sebut ratusan sepeda motor dan mobil diduga diperlakukan seperti itu.

Karena disebut-sebut terlibat nama oknum CPM, kemudian Sahat Manullang melapor ke Denpom Jalan Suprapto Medan, dan disana ia sempat dimintai keterangan selama empat jam. Namun sangat disesalkan, bukti laporan pengaduannya tidak diberikan, ujar Sahat kecewa.

Untuk ketiga kalinya mengalami nasib sial, tanggal 21 Februari 2010 seorang bermarga Lubis penduduk Jalan Enggang merental mobil Kijang LGX BK 1474 XR milik Sahat Manullang. Saat dirental, pihak leasing ACC berkantor di Jalan Adam Malik menyita mobil tersebut ditengah perjalanan tepatnya di Indrapura dengan alasan karena sudah menunggak selama dua bulan dengan cicilan Rp 4.600.000 per bulan.

Mengetahui duduk kejadian seperti itu, tanggal 27 Februari 2010 Sahat Manullang mendatangi pihak leasing untuk membayar tiga bulan sekaligus. Namun sangat aneh, ketika itu leasing tidak mau menerima yang tiga bulan itu malah meminta supaya sisa cicilan dengan sebanyak Rp 95 juta lagi diminta supaya dilunaskan, padahal perjanjian bahwa mobil tersebut dibeli secara angsuran atau cicilan.

Setelah disusul kembali, Sahat Manullang bagaikan tersentak mendengarkan penjelasan bahwa pihak leasing telah menebus kedua mobil dari penadah. Kemudian kasus mobil Xenia BK 1383 JP dan Kijang Krista BK 717 DM dikait-kaitkan lagi dengan kasus Kijang BK 1474 XR . “Yang menjadi pertanyaan, adakah pihak leasing melaporkan tindak pidana penipuan dan penggelapan mobil kepada aparat penegak hukum. Kedua, kenapa pihak leasing menebus mobil dari tangan penadah tanpa diberitahu kepada saya selaku pemilik. Ketiga, sebelum kami menggugat pihak leasing ke pengadilan, kami minta supaya Kijang BK 1474 XR segera dikembalikan kepada kami. Keempat, kepada pihak aparat penegak hukum diminta supaya mengusut apakah ada keterkaitan pihak leasing dengan penadah. Ini perlu diwaspadai, jangan jangan mereka ada bersubahat,” ujar Sahat Manullang.

Ditambahkannya, kasus penipuan dan penggelapan mobil dengan modus dirental sudah cukup banyak namun hingga sekarang belum ditangani scara tuntas. Menurut Sahat, baru-baru ini saja, terjadi kasus yang sama antara lain pengusaha mobil rental bermarga Batubara (penduduk Jalan Kiwi Perumnas Medan II), Saragih (penduduk Mandala By Pass), Naibaho (penduduk Jalan Perjuangan) Medan juga kehilangan mobil dengan modus yang sama, namun hingga sekarang belum ditemukan.

Jelasnya, kasus penipuan dan penggelapan mobil di Medan sudah meresahkan masyarakat yang pada umumnya terdiri dari ekonomi lemah. Demi tegaknya hukum dan adanya kepastian keamanan di Sumut, diminta supaya kasus ini segera diungkap secara tuntas. “Teroris beserta jaringannya saja bisa berhasil disikat polisi, apalagilah kasus penggelapan mobil, pasti bisa karena tempat dan pelakunya di Medan,” ujar Sahat Manullang optimis. [bnd]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: