DPRD Taput Temukan Pelaksanaan Proyek Pasar Siborongborong Berbiaya Rp 11 Miliar ‘Amburadul’

TAPUT, MANDIRI
Anggota DPRD Kabupaten Tapanuli Utara menemukan sejumlah kejanggalan terkait pelaksanaan proyek APBD 2009 di Kecamatan Siborong-borong. Berbagai kejanggalan tersebut ditemui saat anggota dewan yang terhormat melakukan kunjungan kerja ke Siborongborong, Rabu (7/4).
Kejanggalan yang ditemukan antara lain proyek pembangunan dua gedung bangsal Puskemas Siborongborong berbiaya Rp 600 juta, proyek pembangunan tiga Ruangan Kelas Baru (RKB) SMA 2 Siborongborong berbiaya Rp 307.875.000 dan proyek pembangunan dan pegembangan sarana distribusi Pasar Siborongborong berbiaya Rp 11.760.305.000.
Anggota DPRD Taput yang melakukan kunker ke Siborongborong antara lain, Alamsa Sihombing, Reguel Simanjuntak, Tiur Kalima Purba, Jonson Siregar (Komisi C), Renol Tampuboloan, Parpunguan Sianturi, Poltak Sipahutar (Komisi A) dan Lanser Sianturi (Komisi B). Dalam kunker tersebut, anggota dewan didampingi Kadis Koperasi Taput Barto Manalu dan Camat Siborongborong.
“Kita turun kelapangan kunjungan kerja untuk melihat pelaksanaan pelaksanaan proyek pembangunan Tahun Anggaran 2009 di Kecamatan Siborongborong. Dalam pelaksanaan proyek pembangunan di Kecamatan Siborongborong sebagian ada kita temukan kejanggalan pagu proyek, seperti pembangunan 2 gedung bangsal Puskesmas Siborongborong berbiaya Rp 600 juta, dimana biaya Rp 600 juta hanya pembangunan fisik. Kemudian pembangunan tiga unit RKS SMA 2 Siborongborong berbiaya Rp 307.875.000, dimana dana sebanyak itu pembangunan gedung SMA 2 tidak memakai asbes dan pembangunan Pasar Siborongborong Rp 11.760.305.000, belum ditempati sudah amburadul, karena septic tank pasar tersebut sudah tumpat.  Bahkan bangunan pasar sudah ada yang retak-retak, serta pelaksanaan instalasi litrik terkesan asal jadi,” ujar Alamsa Sihombing selaku Ketua Tim Kunker.
Nanti setelah selesai kunker, dewan akan membahas permasalahan ini di rapat paripurna DPRD. “Kita akan paparkan semua temuan ini dihadapan Bupati Tapanuli Utara, karena ini menyangkut uang rakyat,” imbuh Alamsa Sihombing.
Sementara anggota DPRD Parpunguan Sianturi, dalam kunjungan kerjanya ke Pasar Siborongborong, mempertanyakan kepada Kadis Koperasi tentang kapasitas pedagang yang dapat ditampung Pasar Siborongborong setelah dibangun. Kadis dengan lantang menjawab, pedagang yang dapat ditampung pasar tersebut sebanyak 747 pedagang.
Sedangkan Pegawai Dinas Pasar Siborongborong L Sitorus kepada Mandiri di lokasi pajak mengatakan, sebelum pasar dibangun kapasitas pedagang yang dapat ditampung sebanyak 1.474 pedagang, namun setelah dibagun pedagang yang dapat ditampung hanya 847 pedagang.
Saat ditanya, apa benar laporan UPT Pasar Siborongborong ke Dinas Koperasi Taput bahwa jumlah pedagang di Pasar Siborongborong sebanyak 747 pedagang, dia dengan tegas kembali mengatakan, sebelum pasar tersebut dibangun jumlah pedagang yang telah terdaftar sebanyak 1.474 pedagang. “Kami nantinya tidak tau bagaimana cara untuk membagi lapak ini kepada pedagang, siapa-siapa yang dapat dan siapa yang tidak dapat,” ujar Sitorus.
Beberapa masyarakat sekitar Pasar Siborongborong yang juga pedagang kepada Mandiri mengatakan, bahwa mereka dari dulunya tidak sependapat Pasar Siborongborong dibangun. Sebab apabila dibangun akan menguragi jumlah pedagang. Terbukti dari 1.500 pedagang yang dapat ditampung sebelumnya, setelah dibangun hanya sekitar 700 pedagang yang dapat ditampung.
“Atas semua itu, apabila Dinas Pasar tidak mengutamakan putra Taput berjualan, kami tidak akan tinggal diam dan kami akan membuat aksi damai. Karena informasi yang beredar, kebanyakan pemilik balairong adalah orang luar Taput,” ujar salah seorang pedagang.
Harapan pedagang kepada DPRD Taput, agar melihat situasi pembagian lapak di Pasar Siborongborong. Apabila orang-orang dari daerah lain menguasi lapak, setiap minggunya dana masyarakat Taput akan disedot orang dari daerah lain, dan apa artinya otonomi daerah? [frh]

One Comment to “DPRD Taput Temukan Pelaksanaan Proyek Pasar Siborongborong Berbiaya Rp 11 Miliar ‘Amburadul’”

  1. kalau masih di pelihara tabiat KKN kapan majunya daerah kita (TAPUT),di saat pembangunan masih banyak kejanggalan dalam pengadaan batu cor yang kwalitasnya kurang bagus.mau cari untung dengan resiko yang besar sangat tidak bermoral dan berprikemanusiaan.jadi kepada pemerintah tolong tindak tegas oknum yang semata2 mencari untung tanpa memikirkan asaz kemanusiaan.kalau trus di biarkan ini akan jadi membudaya di semua lokasi proyek.
    dan mengenai jumlah orang yang mau menempati lokasi pasar itu,sangat di sayangkan kalau jumlah nya makin berkurang,padahal pasar ini merupakan salah satu pendapatan daerah yang sangat besar jadi sangat di sesalkan kalau makin dikurangi.kalau menurut saya pribadi harus nya pasar tersebut di perbesar kalau perlu semua yang kosong di isi dengan bangunan.trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: