Rudolf ‘Sangkut’ di KPU, Mengapa Menuding Gubsu?

KPU Medan membuat keputusan yang mengejutkan itu; tidak meloloskan Rudolf Pardede, untuk ikut bertarung dalam pemilihan walikota Medan. Mengejutkan, karena Rudolf, yang berpasangan dengan Afifuddin Lubis, menurut berbagai analisis, mulai dari yang punya dasar akademis sampai yang sekadar kombur malotup di kedai kopi, diperhitungkan sebagai kandidat yang berpeluang besar untuk terpilih.

Rudolf memang bukan tokoh sembarangan. Dia pernah menjadi Ketua PDIP Sumut, Gubsu setelah sebelumnya menjadi Wagub. Bahkan banyak yang menggambarkan, keinginannya untuk ikut dalam pemilihan Walikota Medan, membuatnya seperti turun kelas. Ibarat Evander Holyfield menantang Chris John.

Soal kesiapan “logistik”, konon lebih dari cukup. Rp 25 miliar siap diguyurkan. Kebetulan jumlah itu beda-beda tipis dengan uang yang mampir di rekening Gayus Tambunan. Sekali lagi, kebetulan.

Test case, atau “uji coba” dukungan pemilih, juga mencatat rekor fantastis, saat ia menjadi pemuncak dalam daftar perolehan suara pemilihan DPD dalam pemilu tahun lalu. Wakilnya juga bukan orang sembarangan. Afifuddin Lubis pernah menjadi sekda dan pejabat walikota Medan. Dia birokrat dengan jam terbang tak terbantahkan.

Menyadari politik aliran masih sangat eksis di negeri ini, orang pun memperkirakan basis dukungan untuk Rudolf akan utuh. Suara jemaat akan membulat untuknya, sementara suara jamaah akan berserak berselemakpeak untuk sederet pesaingnya.

Singkat cerita, Semua kandidat lain, tidak saja harus berhitung, tetapi kontan dibuat gentar oleh duet maut ini. Para analis politik dadakan kemudian memperkirakan, tak ada yang bisa menghentikan Rudolf-Afifuddin untuk memenangi Pilkada. “Kita hanya bisa berharap, terjadi dua putaran, dan insya Allah, diputaran kedua, ketika hanya ada dua peserta, Rudolf bisa dikalahkan,” ujar beberapa lelaki yang duduk berselonjor di serambi masjid, usai Shalat Jumat.

Dan keputusan mencengangkan itu kemudian diumumkan dari Jalan Kejaksaan, di mana Kantor KPU Medan berada. Rudolf-Afifuddin tidak lolos, karena komisioner menemukan bukti kuat bahwa Rudolf Pardede tidak pernah terdaftar sebagai siswa di SMU Kristen BPK Penabur di Sukabumi, Jawa Barat. Di sisi lain, Rudolf juga dianggap tidak bisa memberikan pembuktian terbalik, dengan menyerahkan dokumen-dokumen, yang bisa membuktikan dia pernah menamatkan pendidikan SLTA, di manapun.

Panggung politik pun riuh rendah. Pendukung Rudolf-Afifuddin tentu saja gerah. Buat mereka sangat mengada-ada, bila persoalan ijazah menjadi ganjalan, sementara sebelumnya Rudolf sudah aman-aman saja menjadi Wagub, Gubsu, dan kini menjadi senator di Senayan. Mereka menduga, ada motif politik di balik keputusan, yang digambarkan sebagai pemasungan demokrasi itu.

Daftar tersangka pun dibuat, berisi nama orang atau kelompok yang patut diduga berkepentingan untuk “menghabisi” Rudolf, sebelum sempat naik ke arena. Dan yang berada di nomor teratas daftar tersangka itu adalah H Syamsul Arifin, SE, Gubsu yang juga Ketua Golkar Sumut.

Motifnya, untuk memuluskan langkah Rahudman Harahap dan Dzulmi Eldin, yang menurut mereka merupakan calon yang didukung penuh oleh Gubsu. Desas-desus menyebut, Rudolf sendiri juga beranggapan demikian, walaupun belum didapatkan klarifikasi resmi soal itu.

*****

Pentas politik di negeri ini, memang sudah terlalu lama mempertontonkan lakon-lakon yang sangat jauh dari kesucian nurani, dan dengan sendirinya sangat dekat dengan kotornya ambisi. Akibatnya, kita merasa yakin, selalu ada motif tertentu di balik sebuah tindakan atau monuver politik. Tapi tak bisa pula begitu saja menyalahkan munculnya su’dzhonisme (buruk sangka) politik seperti itu. Sudah hukumnya, kalau orang yang bolakbalik dibohongi, bawaannya akan selalu curiga.

Kecurigaan itu pulalah yang membuat orang tak lagi sempat menyimak, argumentasi-argumentasi hukum yang sangat logis, yang berulangkali disampaikan oleh KPU Medan, yang menjadi dasar mereka untuk tidak meloloskan Rudolf.

Tapi syukurlah, ternyata hingga saat ini, gelombang kemarahan massal, yang diperkirakan akan terjadi menyusul tersisihnya Rudolf, tidaklah semasif yang dikhawatirkan. Entah karena orang akhirnya setuju dengan KPU Medan, bahwa ijazah Pak Rudolf memang bermasalah, atau mereka sudah terlanjur lelah.

Saya sendiri, andai berkesempatan berbicara dengan Pak Rudolf, akan mengingatkan beliau, bahwa ada begitu banyak rakyat Sumatera Utara yang memberinya mandat untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Tolong diingat, berapa ratus ribu orang Sumut yang telah meluangkan waktunya, untuk memberi suara pada Anda. Ketika Anda kemudian mendapat kehormatan itu, mereka pun mulai berharap, suara yang mereka titipkan di pundak Anda, tidak akan sia-sia.

Bisakah Anda bayangkan, Pak Rudolf yang terhormat, bagaimana perasaan para pemilih itu, ketika begitu saja Anda ingin menanggalkan amanah itu, seolah ratusan ribu suara berisi kepercayaan dan harapan itu adalah sesuatu yang tak berarti, karena ingin mendapatkan kedudukan yang lain?

Untung waktu itu saya tidak memilih Anda. Jika tidak, saya pasti sangat tersinggung. Daripada marah-marah, yang katanya akan membuat cepat tua, mengapan tidak menjadikan “kegagalan” ini sebagai pelajaran, bahwa terlalu bernafsu merengkuh tahta, bisa membuat kita tersandung oleh hal tak terduga.

Hidup Pak Rudolf, anggota DPD dengan legitimasi terbesar dari Sumatera Utara! [toga nainggolan]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: