Penderita HIV/AIDS di Tebingtinggi Diprediksi Mencapai Puluhan Orang

TEBINGTINGGI, MANDIRI

Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Tebingtinggi hingga saat ini belum dapat dipastikan. Sementara dalam kenyataannya telah ada temuan puluhan orang warga Tebingtinggi sekitarnya terinfeksi positf penyakit mematikan ini. Terakhir, seorang ibu hamil warga Kampung Lalang, Kecamatan Rambutan, dirujuk ke salah satu RS di Medan.

Kepala Dinas Kesehatan Tebingtinggi dr H Syawaluddin Nasution MKes melalui Sekretaris Nataruddin Nasution didampingi Kabid PMK mengakui dalam perhitungan komulatif hingga akhir 2009 di Tebingtinggi sudah ada yang terinveksi HIV/AIDS.

“Berdasarkan cacatan yang ada, secara komulatif sudah 6 orang terinveksi HIV dan 7 orang terinfeksi AIDS beberapa kasus yang di temukan sudah ditangani sesuai dengan prosedur yang ada,” ujar Nataruddin.

Ditambahkan, dalam penanganan kasus pihak Dinas Kesehatan Tebingtinggi masih menganut sistem “jemput bola”. Bila ada laporan dari berbagai pihak, pihak Dinkes melakukan pengecekan selanjutnya menyarankan agar orang yang diduga terinfeksi melakukan diagnosa ke RSUD Kumpulan Pane Tebingtingi. Untuk selanjutnya pihak Dinkes tidak tahu persis kelanjutannya.

“Koordinasi pihak Dinkes dengan pihak RSUD Kumpulan Pane belum terjalin baik, paling-paling yang kami tahu setiap pasien yang terinfeksi dirujuk ke salah satu rumah sakit di Medan yang memiliki fasilitas khusus penanganan HIV/AIDS,” ujar Nataruddin.

Mengutip keterangan sejumlah sumber di lapangan, di RSUD Tebingtinggi telah dibentuk Tim VCT yang berjumlah 5 orang, pihak RSUD Kumpulan Pane Tebingtinggi yang menangani penderita yang diduga terinveksi HIV/AIDS hanya sebatas konseling, atau secara umum.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Kumpulan Pane dr Nelly yang ditemui wartawan tidak bersedia memberikan keterangan seputar pasien yang diduga terinfeksi AIDS yang sempat diinapkan di RSUD Kumpulan Pane tanpa ijin pimpinan. “Sudah ada timnya, saya tidak bersedia memberi keterangan tanpa izin pimpinan,” kilahnya.

Paling ironi lagi, ternyata tidak satupun rumah sakit di Tebingtinggi yang memiliki Klinik Voluntary and Counseling Testing (VCT ), padahal ini merupakan suatu program yang dapat digunakan bagi pihak medis untuk mengetahui sudah seberapa jauh seorang pengidap HIV/AIDS menderita penyakitnya. Keberadaan klinik VCT sendiri merupakan suatu jalan keluar yang sangat baik dalam proses penghentian penularan yang berakibat meningkatnya jumlah penderita HIV/ AIDS di Kota Tebingtinggi.

Penyakit mematikan ini dikhawatirkan dalam waktu singkat akan “menyelimuti” Tebingtingi, bila pihak Dinkes bersama pihak terkait tidak mau peduli dengan tindak lanjut penanganan penderita yang sudah terjaring terhenti tiba-tiba, bahkan terkesan menutup-nutupinya. Tidak terlepas kemungkinan sejumlah penderita yang terindentifikasi terinfeksi HIV/AIDS positif memiliki peluang untuk menyebarkan penyakit mematikan ini. [mel]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: