60% Proyek di Taput Diduga Asal Jadi

TARUTUNG, MANDIRI

Pelaksanaan proyek di Kabupaten Tapanuli Utara pada tahun 2009 ini, diperkirakan 60% asal jadi dan diduga banyak mark-up. Terjadinya proyek asal jadi tersebut diduga karena tidak adanya pengawasan yang ketat dari dinas-dinas terkait kepada rekanan.

Seperti proyek pembangunan drainase dengan sumber dana stimulus tahun 2009, proyek tersebut rata-rata tidak memakai pundasi. Juga proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) pembangunan gedung Sekolah Dasar (SD), pelaksanaan penggalian pundasi rata-rata 40 cm, padahal kedalaman pundasi dalam Rancangan Anggaran Biaya (RAB) 75 cm. Kemudian pemasangan besi tiang pundasi rata-rata digunakan 9 inci (banci), sementara dalam RAB proyek tersebut 10 inci. Selain itu, pelaksanaan proyek DAK di Taput diduga diarahkan Kepala Dinas melalui UPT Pendidikan tanpa diketahui komite sekolah.

Kemudian ada dua proyek di Jalan Butar Siborongborong, yakni pembangunan drainase dan pembagunan jalan, baru selesai dikerjakan sudah hancur atau amburadul. Satu proyek drainase berbiyai Rp163.709.000 dan satu lagi proyek pembagunan jalan tanpa papan proyek, dimana pelaksanaan kedua proyek tersebut dilaksanakan terkesan asal jadi. Indikasinya proyek jalan baru selesai dikerjakan sudah seperti kubangan kerbau. Pelaksanaan proyek drainase juga diduga mark-up, sebab fisik bagunan tersebut sudah kopak-kapik.

Pelaksana proyek pembangunan drainase yang berbiaya Rp163.709.000 adalah CV Puri Audri Laguna, dengan Direktur Saut Simanjuntak. Disebut-sebut sang Direktur adalah adik kandung Ketua DPRD Taput FL Fernando Simanjuntak SH MBA MH. Sedangkan biaya dan pelaksana proyek pembangunan Jalan Butar, tidak jelas. Tetapi informasi yang beredar, pagu proyek tersebut Rp48 juta.

“Kami masyarakat Jalan Butar sangat menyesalkan atas pelaksanaan proyek pembangunan drainase dan pembagunan Jalan Butar, karena pelaksanaan kedua proyek tersebut terkesan asal jadi. Baru beberapa minggu selesai dikerjakan, Jalan Butar sudah seperti kubangan kerbau, juga proyek pembagunan drainase yang berbiaya Rp163 juta itu, pembuangan saluran arinya tidak jelas. Kami menduga pembangunan drainase terkesan dipaksakan dengan tujuan asalkan ada penyaluran dana APBD Taput, tanpa perencanaan yang matang. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara tentang proyek yang amburadul ini seakan tidak peduli,” ujar warga Jalan Makmur kepada wartawan.

Harapan warga, agar pihak Kejaksaan menyelidiki pelaksanaan pembangunan kedua proyek tersebut, karena sudah terkesan kedua proyek itu amburadul dan juga diduga dananya dimark-up oleh dinas terkait. Mereka juga mengharapkan kepada Bupati Tapanuli Utara agar meninjau lokasi proyek tersebut, karena kejadian ini semua adalah ulah pimpinan SKPD yang menangani proyek tersebut.

Kadis PUK dan Kadis Cipta Karya yang menangani proyek tersebut, tidak berhasil dikonfirmasi melalui telepon, Sabtu (7/11).

Pantauan wartawan, pada saat hujan, jalan yang baru selesai dikerjakan sudah seperti kubangan kerbau. Salah satu penyebabnya akibat tidak berfungsinya drainase sehingga air yang di drainase meluber ke badan jalan. [frh]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: