Walikota Medan Copot Kabid Pengawasan TRTB

MEDAN, MANDIRI

Orang yang kreatif pasti dapat pujian. Tetapi kalau terlalu “kreatif” alias “maju kali” bisa-bisa malah diganjar pemecatan. Sepertinya itu yang terjadi pada Thamrin, ST, Kabid Pengawasan TRTB Pemko Medan.

Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM tampaknya sudah hilang kesabaran terhadap anak buahnya yang satu ini. Bagaimana tidak, Thamrin diduga kuat melakukan pemerasan kepada pemilik bangunan, dengan dalih pengawasan bangunan. Tidak itu saja, permintaan uang Rp 10 juta itu disebutnya atas perintah atasannya, dalam hal ini Walikota Medan.

Sikap tegas tersebut disampaikan Rahudman ketika Mandiri menghubunginya melalui telepon, Jumat (6/11) malam.

Rahudman mengaku, bukan kali ini saja ia menerima laporan dari masyarakat mengenai tindakan “menyalah” Kabid Pengawasan Dinas TRTB. Sebelumnya, sudah berkali-kali ia menerima laporan mengenai “kelakuan” T yang diangkat menjadi Kabid Pengawasan Dinas TRTB di penghujung masa jabatan Pj Walikota Medan Afifuddin Lubis.

“Sudah berkali-kali masyarakat melaporkan mengenai tindakan Kabid Pengawasan Dinas TRTB itu. Makanya ia akan ditindak tegas. Di sini juga saya tegaskan, saya tidak pernah memerintahkan Kabid Pengawasan Dinas TRTB untuk meminta sejumlah uang kepada pemilik bangunan,” tegas Rahudman.

Sebelumnya diberitakan, Kabid Pengawasan Dinas TRTB berinisial T melakukan tugas di malam hari untuk memeriksa bangunan. Peristiwa ini terjadi Rabu (4/11) sekitar pukul 19.00 WIB di Jalan Pembangunan, Helvetia, Medan, di lingkungan Akademi Kebidanan Sehati yakni sebuah rumah merangkap Klinik Bersalin yang memiliki IMB Bahkan kata pemilik untuk mengurus izinnya itu dia sudah membayar sampai Rp30 juta ke Dinas TRTB.

Persoalannya, kata ibu S br Marpaung, pemilik bangunan, klinik itu dipenuhi oleh siswa Akbid Sehati milik anaknya untuk sementara. Menurut Ibu Marpaung, hal itu terpaksa dilakukannya karena asrama siswi Akbid Sehati penuh dan untuk sementara ditampung di klinik itu. Hal inilah dijadikan Kabid Pengawasan bersama dua anak buahnya, Z dan H sebagai pintu masuk untuk meminta uang sebesar Rp10 juta.

Tentu saja Ibu Marpaung terkejut dan menyatakan malam-malam seperti itu dia tidak memiliki uang sebanyak yang diminta. Tapi T mendesak terus karena katanya itu perintah atasannya yang memerlukan uang malam itu juga sebesar Rp 10 juta. Tak dijelaskan apakah atasannya itu Kadis atau Walikota. Cuma saja karena Walikota sekarang gencar melakukan penertiban, bagi Ibu Marpaung yang pensiunan Polwan itu menduga di dalam hatinya atasan yang dimaksud T adalah Walikota. Tapi karena tak memiliki uang dia tetap menolak.

Hebat dan mencengangkan. T malah memaksa supaya Ibu Marpaung mengambil uangnya melalui ATM. “Masa Ibu tak punya ATM, kita ambil saja malam ini. Rp8 jt pun jadi karena ini suruhan atasan saya,” kata sang Kabid. Karena tetap ditolak akhirnya T memberi tempo sampai Jumat (6/11) agar Ibu Marpaung menyiapkan uang yang Rp10 juta. Kalau tidak dia akan membongkar bangunan itu. Menurut Ibu Marpaung karena persoalan itu lebih bagus dia mengusir para siswi Akbid itu dari kliniknya dari pada membayar Rp10 juta.

Ketika hal ini diceritakan kepada anggota DPRD Medan, Ilhamsyah dari Fraksi Partai Golkar, tokoh pemuda Melayu ini sangat terkejut. Dia meminta agar Walikota segera mengambil tindakan, apalagi kalau permintaan uang secara paksa seperti itu dengan alasan untuk atasannya. “Saya tau betul dengan Pak Wali, mana mungkin dia menyuruh bawahannya melakukan hal seperti itu,” kata Ilhamsyah tegas. [adi]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: