Tangkap Pimpro Pengadaan Babi

DOLOKSANGGUL, MANDIRI

Dugaan tindak pidana korupsi miliaan rupiah di Kabupaten Humbahas semakin terbongkar. Diantara proyek yang penuh misteri itu, antara lain proyek pengadaan 252 ekor calon induk babi unggul Rp849.412.095, pengadaan 2.000 ekor itik Rp87.042.135, pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) bernilai Rp1,7 miliar dan proyek lainnya.

Di atas kertas tercantum calon induk babi unggul, sedangkan kenyataan adalah babi potong atau babi sembarang yang dibeli secara kiloan dengan harga antara Rp13-14 ribu rupiah di pekan. Katakan saja kalau per ekor ditaksir antara Rp700 sampai Rp800 ribu. Atau naikkan saja harganya menjadi Rp1 juta. Kalau 252 ekor berarti baru Rp252 juta, berarti uang negara hilang sebanyak Rp597.412.095.

“Jika terbukti dugaan korupsi seperti itu, maka tangkap segera Pimpro pengadaan babi tersebut dan seluruh pihak yang terlibat serta kasusnya diproses sampai ke pengadilan,” ujar warga Humbahas Bonar Sihombing kepada Mandiri, Jumat (30/10).

Direktur Eksekutif Gerakan Peduli Pemberdayaan Petani dan Pertanian (GRIPPE) Sumut Manaor Silaban ketika dihubungi secara terpisah meminta kepada Kejaksaan segera memeriksa Kadis Peternakan dan Perikanan Humbahas Ir Joses Pardosi, Kepala Bidang Peternakan Ir Buroniani Naibaho, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) atau Pimpronya Sanggam Sihombing SPt.

“Ketiga oknum pejabat ini telah mencoreng nama baik Bupati Drs Maddin Sihombing yang berpotensi menggagalkan ambisinya untuk maju di Pilkada 2010. Perlu segera diperiksa dan kasusnya diusut tuntas,” kata Manaor.

LSM GRIPPE baru-baru ini membentuk tim ke berbagai desa untuk mengetahui keberadaan proyek pembangunan tahun anggaran 2007, 2008 dan sebagian 2009 di Humbahas, termasuk proyek pengadaan calon induk babi unggul dan proyek lainnya. Kesimpulannya, punten 4 alias rusak parah. Para pejabat disana tidak lebih dari komisioner untuk memperkaya diri sendiri, mereka punya rumah besar di Humbahas, di Medan bahkan ada di Bekasi, Pulau Jawa. Artinya, kinerja Bupati Maddin Sihombing telah gagal total. Maklum, beliau sudah tua dan kini sudah berusia 64 tahun sehingga terkesan gampang dikelabui stafnya. Karena kecurangan oknum pejabat disana membuat proyek tidak berguna bagi masyarakat dan banyak menghabiskan uang negara tanpa menghasilkan bagi masyarakat.

Tim LSM GRIPPE yang dipimpin Kepala Divisi Investigasi Ramlo Hutabarat menjelaskan, proyek yang dikelola Dinas Peternakan dan Perikanan Humbahas penuh bernuansa KKN. Manaor Silaban dan Ramlo Hutabarat menjelaskan, tahun anggaran 2008 dalam APBD Humbahas ada dialokasikan dana sebesar Rp849.412.095 untuk biaya pengadaan 252 ekor calon induk babi unggul yang dibagikan kepada masyarakat di 8 Kecamatan masing-masing Kecamatan Dolok Sanggul 52 ekor (masing-masing di Desa Pasaribu, Simangaronsang, Sirisirisi, Matiti II, Purba Manalu, Purba Dolok, Lumban Purba, Lumbantobing, Hutagurgur, Sait Nihuta, Sosor Gonting, Bona Ni Onan, Sileang), di Kecamatan Pollung 18 ekor (Desa Sipitu Huta, Pollung, Aek Nauli I, Aek Nauli II, Pandumaan, Hutajulu, Hutapang), di Kecamatan Onan Ganjang 12 ekor (Desa Sibuluan, Sigalogo, Parbotihan), di Kecamatan Parlilitan 21 ekor (Desa Sion Selatan, Baringin, Sihas Dolok), di Kecamatan Pakkat 50 ekor (Desa Rura Tanjung, Baringin, Pakkat Hauagong, Ambobi, Tukka Dolok, Karya, Pulo Godang), di Kecamatan Paranginan 17 ekor (Desa Paranginan Selatan, Paranginan Utara, Siboru Torop), di Kecamatan Sijama Polang 14 ekor (Desa Sibuntuon, Bonan Dolok I, Bonan Dolok II), di Kecamatan Lintong Nihuta (kampungnya Maddin Sihombing) 67 ekor (Desa Naga Saribu II, III, IV, V, Silaban, Siponjot, Dolok Margu, Hutasoit II, Sitio II, Sibuntuon Parpea, Tapian Nauli).

Hasil pantuan LSM GRIPPE, pengadaan calon induk babi unggul di Humbahas sangat berpotensi korupsi karena kenyataan di lapangan bahwa babi tersebut sudah jarang ditemukan di kandangnya. Namanya calon induk babi, kenyataannya tidak sempat beranak karena buru-buru disembelih pada saat pesta. Yang tinggal sekarang ini, paling banyak 25 persen lagi.

“Logika manusia yang sehat, kalau benarlah yang diberikan itu babi unggul, kan bukan bodoh masyarakat langsung memotongnya. Tapi memang dasar babi potong yang dibagikan, ya dipotonglah,” ujar Bonar Sihombing menyalahkan Pimpro pengadaan babi tersebut Sanggam Sihombing dan Bupati Maddin Sihombing yang tidak mendidik aparatnya berkelakuan baik untuk membangun Humbahas sebagaimana diharapkan masyarakat.

Baik Bonar Sihombing, Manaor Silaban dan Ramlo Hutabarat sependapat mengatakan bahwa asal usul babi tersebut tidak jelas dan diduga berat justru dibeli dari pekan-pekan ditambah dari peternakan masyarakat. Liciknya, ada oknum pejabat Humbahas ikut memelihara anak babi. Setelah kira-kira dua atau tiga bulan lagi datang tim pemeriksa dari Inspektorat, barulah mereka jual kepada pemborong.

Kalau benar yang dibeli adalah babi potong yang ditimbang per kilo sehingga harga 252 ekor babi dimaksud paling berharga Rp100 juta atau naikkan saja menjadi Rp200 juta. Maka dugaan korupsi sebanyak Rp600 juta lebih. Mengerikan, bukan? Tanya mereka geram. Dari proyek pengadaan babi saja sudah meraup keuntungan Rp600 juta lebih.

“Kalau benar dugaan korupsi tersebut,maka tangkap segera Pimpronya Sanggam Sihombing, Kabid Peternakan Buroniani Naibaho dan Kadis Peternakan dan Perikanan Humbahas Joses Pardosi dan pemborongnya,” kata G Manullang penduduk Sijama Polang.

Dalam pengadaan bibit babi unggul, pemerintah tidak main main, tetapi diatur lewat SK Dirjen Peternakan RI. Di Sumut hanya ada empat perusahaan yang memperoleh lisensi untuk penangkaran/pembibitan babi unggul yakni UPTD Sinur Siborongborong milik pemerintah, dan tiga lagi di Medan yakni PT Cahroen Pokphand, PT Mabar dan PT Kargil. Dalam SK Dirjen tersebut jelas persyaratannya dari mana asal-usul dan genetika babi tersebut. Pada umumnya diimpor dari Australia, Amerika, Eropa dan China. Kalau itu memang mahal, bisa mencapai Rp2-Rp 3 juta per ekor.

“Sedangkan yang dibeli pejabat Dinas Peternakan dan Perikanan Humbahas atau pemborongnya bukanlah babi unggul sebagaimana diisyaratkan SK Dirjen tersebut. Berarti penyimpangan yang dilanggar dalam kasus proyek pengadaan calon induk babi unggul sudah tumpang tindih. Melanggar peraturan pemerintah atau tidak sesuai dengan SK Dirjen, manipulasi mutu dan harga babi. Jadi tidak ada alasan lagi, kalau benar pelanggaran itu maka tangkap saja mereka yang terlibat,” kata G Manullang dan Bonar Sihombing.

Ketika dugaan penyimpangan ini dikonfirmasikan baru-baru ini, Pimpro pengadaan calon induk babi unggul Sanggam Sihombing membantah kalau yang dibeli adalah babi potong melainkan sudah hasil persilangan. “Tidak benar babi potong. Yang membeli bukan kami, tetapi pemborong PT Mora Bersatu milik Bastian Simamora. Kami melihat babi yang dibeli itu pada umumnya berukuran 70 kilogram yang terdiri dari dua jenis yakni jenis Landrace, Duroc. Karena sudah cocok kami lihat spesifikasinya dan timbangannya, maka kami terima,” ujar Sanggam.

Keterangan Sanggam ini juga didengar Kadis Peternakan dan Perikanan Humbahas Joses Pardosi didampingi Kabid Peternakan Buroniani Naibaho. Sanggam juga bingung kenapa calon induk babi unggul tersebut tinggal sedikit. Kalau ada tinggal 50 persen sajapun sudah syukur. “Saya sendiri ada memelihara lima ekor ternak babi dan yang beranak hanya dua ekor. Jadi, kami memang tidak mengawasi kenapa babi itu ada yang mati, ada disembelih,” kata Sanggam.

Saat Mandiri menanyakan sampai tiga kali darimana asal usul pembelian calon induk babi unggul tersebut, Sanggam tidak mengetahuinya. Ketika kembali diulangi menanyakan dari mana babi tersebut dibeli, Joses Pardosi juga tidak mampu menjawabnya. “Masalah darimana dibeli, itu urusan pemborong. Yang penting sesuai kriteria yang ditetapkan panitia dan PPTK,” kata Joses Pardosi. Namun penjelasan Joses Pardosi ini, dinilai banyak kalangan PNS adalah jawaban yang konyol dan buang badan. Kinerja pejabat yang satu ini, memang sering mempermalukan nama baik Bupati Maddin Sihombing.

Selain proyek pengadaan calon induk babi, juga proyek pengembangan 2.000 ekor itik seharga Rp87.042.135 dipertanyakan masyarakat Humbahas. Menurut catatan LSM GRIPPE dari 1000 ekor anak itik, 600 ekor dibagikan kepada masyarakat di Desa Baringin Parlilitan, 250 ekor untuk Desa Nagasaribu II Lintong Nihuta dan 150 ekor lagi di Desa Bakkara Kecamatan Baktiraja. Kenyataan di kapangan, baru-baru ini yang hidup tinggal hanya 102 ekor di Dusun Hariara desa Baringin yang dipelihara Elmor Boru Nainggolan 39 ekor dan Juni Sitohang 63 ekor, selainnya sudah mati. “Belum pernah bertelur, padahal biaya memeliharanya sudah mencapai Rp3 juta. Kami menyesal menerimanya,” kata Juni.

Ketika dikonfirmasi kepada Sanggam Sihombing dan Buroniani Naibaho, mereka sudah mendapat laporan tentang banyaknya itik yang bermatian. “Kami bingung kenapa itik itu bermatian. Terkadang pagi masih makan tapi sorenya sudah mati. Tapi itulah masyarakat ini, kalau mati mereka mengeluh. Coba bertelur dan berhasil, mereka pasti diam,” kata Buroniani Naibaho.

Saat ditanya tempat pembelian itik, Sanggam selaku PPTK mengaku dibeli dari PT Pokphand. Mendengar jawaban tersebut Joses langsung membantah. “Jangan asal bilang, bukan dari PT Pokphand, tetapi dari Jalan Mesjid, Medan,” ujar Joses.

“Kalau itik tau kalian dari mana dibeli, tapi kalau babi kok tidak tahu,” tanya Mandiri lagi mendesak, namun tetap dirahasiakan Sanggam, Buroniani, dan Joses.

Proyek pengadaan calon induk babi unggul di Humbahas tahun 2008 dinyatakan gagal. Begitu juga tahun anggaran 2007 terjadi kasus yang sama. Pengadaan itik juga gagal, pembangunan BBI tahun 2009 juga penuh misteri. Selain itu, berbagai proyek di Dinas Peternakan dan Perikanan Humbahas masih banyak yang gagal karena disebut-sebut banyaknya oknum pejabat dan keluarga mereka terlibat menjadi pemborong, ujar berbagai sumber. [bnd]

2 Komentar to “Tangkap Pimpro Pengadaan Babi”

  1. aduh mak kalau berita ini betul, menjijikan sekali rupanya karakter pejabat disini ya, serupa drakula yang sanggup menghisap darah rakyat yang lugu itu. Tapi apa kerja intel kejaksaan dan kepolisian disana. Apa makan tidur?

  2. Aduh para pejabat tercinta di BONA PASOGIT tolomglah jangan korupsi dulu ,Majukanlah dulu daerah kita .Syalomm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: