SIBOLGA, MANDIRI
Masyarakat Nias yang ada di Kota Sibolga mengancam mendemo Pemerintah Kota Sibolga secara besar-besaran. Hal ini terkait adanya penerbitan buku inventarisasi dan pelestarian nilai-nilai kejuangan kepahlawanan Kota Sibolga terbitan Dinas Sosial dan Tenaga (Disnaker) Kerja Kota Sibolga tahun 2008 yang menyebutkan warga Nias adalah budak.
Protes keras ini berasal dari seluruh elemen Masyarakat Nias, baik pemuda, STM dan Himpunan Masyaarakat Nias Indonesia (Himni) Sibolga/Tapteng dan akan melakukan aksi demontrasi besar-besaran, jika buku itu tidak ditarik dari peredaran dan kata-kata yang menyebut Nias “budak” diralat.
“Jika permintaan itu tidak digubris dan ditanggapi, kami akan lakukan aksi turun ke jalan dengan kekuatan empat rayon kecamatan dari Himni dan masyarakat. Hari Senin kami sudah layangkan surat izin Demo ke Polresta Sibolga dan Kamis (14/3), kami akan turun ke jalan,” ujar Ketua Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Nias Sibolga/Tapteng, Agusman dan Sekretarisnya Faatulo Dauru, Minggu (9/3) mengultimatum Pemko Sibolga selama tiga hari agar menarik buku tersebut dan mempertanggungjawabkan dengan memulihkan nama baik suku Nias.
Pernyataan keras ini terungkap, saat adanya pertemuan khusus dan mendadak masyarakat Nias di Sibolga, Sabtu malam (7/3) yang dihadiri Muklis Gea selaku Ketua Himni Sibolga, Sekretaris Hasana Waruwu, Hamzah Zeb Tumory, Maalius Telaumbanua, Jamil Zeb Tumori, dan lainnya.
Pada pertemuan itu, seluruh yang hadir terlihat sangat emosional baik tua dan muda, termasuk Agus Zebua. Ia merasa gerah dengan kata-kata dalam buku terbitan Pemko Sibolga tersebut. Menurutnya, buku itu, jelas-jelas sangat merugikan dan melecehkan martabat serta merendahkan harga diri etnis Nias.
“Saya tidak pernah dilahirkan dari keturunan budak, camkan itu! Saya kira, Kadis Sosial sadar akan perbuatanya dan mau minta maaf,” tukasnya.
Hal senada dikatakan Abdul Majid Waruwu, Y Nazara, dan penasehat HIMNI Ama Ika Zebua yang menerangkan, bahwa warga Nias sependapat dengan penerbitan buku tersebut, sebagai langkah inventarisasi dan peremajaan buku sejarah perjuangan/kepahlawanan kota Sibolga untuk diwariskan.
“Tapi saya tidak setuju jika Nias dikatakan budak. Saya sudah lama hidup di dunia ini tidak pernah menerima perlakuan seperti binatang. Ini namanya penghinaan,” kata mereka. [son]
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.