Harian Mandiri Online

Sudahlah, Jangan Lagi Kita Ganggu Gubsu

Maret 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

–Catatan Toga Nainggolan–

Saat ini pastilah merupakan hari-hari paling berat H Syamsul Arifin, SE, sejak berkantor di Jalan Diponegoro. Selain harus menunaikan kewajiban pokok sebagai kepala daerah, dia juga harus menjawab berbagai pertanyaan bahkan tuduhan dari sana-sini, terutama di seputar kontroversi demo anarkis para pendukung Protap.

Apa yang dilakukannya, dalam rangka menjelaskan posisinya dalam persoalan ini, sebenarnya sudah lebih dari cukup. Dia sudah bertemu dengan berbagai kalangan masyarakat, Tim Pencari Fakta (TPF) DPRD Sumut, insan pers, selain tentu saja koordinasi intensif dengan unsur Muspida lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya Gubsu kembali konsentrasi kepada tugas-tugas pokok yang menumpuk menanti kerja kerasnya.

Namun tampaknya, sudah menjadi sifat Syamsul Arifin, untuk tidak bisa mengabaikan suara-suara yang didengarnya. Dia tidak bisa berlagak tak peduli pada apa yang disampaikan orang. Beliau tampaknya tipikal orang yang cenderung mudah tersentuh hatinya dan terganggu pikirannya, oleh apa yang dilihatnya, oleh apa yang didengarnya.

Memiliki hati yang peka itu, selain menjadi berkah bagi orang di sekelilingnya, tampaknya juga sebuah “masalah” tersendiri bagi pemiliknya.

“Kelemahan” ini, sadar atau tidak, tampaknya dimanfaatkan betul oleh orang-orang yang kelihatannya semangat betul menembakkan tuduhan kepadanya. Gaya Syamsul Arifin yang akrab, santai, penuh guyon setiap bicara, seakan menjadi lampu hijau bagi mereka, untuk seenaknya melemparkan tuduhan segala macam, mulai dari yang masih bisa dipertimbangkan akal sehat, sampai yang sudah di luar nalar, alias mustahil bin absurd.

Bagaimana pula bisa kita banyangkan, bahwa Gubsu yang berada di balik demo yang rusuh itu, yang menyebabkan jatuhnya korban Ketua DPRD Sumut itu, sementara pemimpin manapun di muka bumi, tentu tidak ingin masa pengabdiannya dikotori oleh gejolak dan potensi perpecahan.

 

Keresahan Pendukung

 

Seresah-resahnya Gubsu dengan berbagai tuduhan itu, sebenarnya jauh lebih resah lagi orang-orang yang bersimpati kepadanya.” Namun sebagai orang yang terobsesi dengan persatuan dan harmoni, Syamsul Arifin pada beberapa kesempatan, selalu berusaha menanamkan pengertian, bahwa membalas serangan dengan serangan, hanya akan menghasilkan perang!

Dan justru peranglah, hal yang paling ingin dihindarinya, selama masih memungkinkan untuk dihindari, tentu saja.

Syamsul Arifin sendiri barangkali sudah membayangkan, problem-problem semacam ini akan menunggu dirinya, jika dia maju menjadi pemimpin. Untuk kesekian kalinya saya teringat pada pidatonya, setahun sebelum pilgubsu.

Melihat kenyataan banyak orang yang menunjukkan minat menjadi cagubsu dan cawagubsu, dia menyatakan rasa syukur. “Ternyata masih sangat banyak putra-putri terbaik Sumut, yang siap capek, siap berkorban menjadi pemimpin, padahal mereka tahu, masalah besar akan selalu menunggu pemimpin daerah sebesar Sumatera Utara,” katanya saat itu.

Syukurlah, Gubsu H Syamsul Arifin, SE menunjukkan kearifan seperti juga yang ditampakkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka berdua tampaknya sepakat, bahwa sebaik apapun seorang pemimpin bekerja, serangan dan kecaman tetap saja akan ditujukan kepadanya.

Oleh karena itu, menjadi seorang pemimpin tidak saja butuh kemampuan manajerial seperti tertulis dalam buku-buku referensi tentang manajemen dan kepemimpinan, tetapi juga daya tahan dan kearifan ketika berhadapan dengan manusia-manusia yang hobinya mengganggu, dan sifat paling menonjolnya adalah dengki. ***

Kategori: Artikel
Ditandai: , , ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar